Penyalainews - Ratusan rumah di Waiwerang, Kecamatan Adonari, Kabupaten Flores Timur dihantam banjir bandang, Minggu (4/4) dini hari sekitar pukul 01.30 WITA. Sebanyak 68 orang dinyatakan meninggal dunia alam peristiwa ini.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana belakangan menyebut banjir bandang di Flores akibat adanya badai berkekuatan besar yang memicu cuaca buruk, yakni siklon tropis Seroja. Bahkan sehari sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini tentang siklon tropis (Tropical Cyclone/TC) 99S alias TC Seroja.
Pasalnya pada Sabtu (3/4) pukul 20.00-24.00 WIB, seperti dilansir dari Kumparan.com, Selasa (6/4) pembentukan awan konvektif skala meso terjadi secara cepat. Awan itu meluas sesuai dengan pergerakan siklon angin yang sangat kuat di sekitar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) inisiasi TC Seroja sudah terbentuk sejak 2 April 2021 dan mempengaruhi cuaca ekstrem di sekitar NTT berupa hujan persisten selama hampir 24 jam disertai angin kencang berdasarkan prediksi DSS SADEWA-LAPAN.
Selama dua hari, hujan persisten dan angin kencang kembali terjadi pada 3 sampai 4 April 2021 dini hari. Kemungkinan hal ini merupakan pemicu kejadian banjir yang terjadi pada 00.30 WIB.
TC Seroja yang berdampak pada peningkatan signifikan dan persisten hujan serta angin kencang ini juga diperkuat dengan aktivitas gelombang ekuator Rossby yang tertahan di bagian timur Indonesia melalui pembentukan formasi tapal kuda (Gill pattern) terpantau oleh DST Gatotkaca-LAPAN.
Formasi ini membuat peningkatan uap air dan kelembapan terperangkap di bagian timur Indonesia. Selain itu, dukungan aktivitas gelombang MJO fase 5 yaitu di Indonesia bagian timur juga turut menambah suplai kelembaban yang terkonsentrasi wilayah tersebut sehingga menimbulkan cuaca ekstrem.
Sebagai catatan, masyarakat perlu mewaspadai pembentukan rangkaian siklon tropis yang dipicu oleh peningkatan suhu permukaan laut di dekat ekuator selama bulan April 2021. Kondisi ini menyebabkan potensi terjadinya Intertropical Convergence Zone (ITCZ) ganda yang dapat pecah dan berputar oleh gaya Coriolis, sehingga dapat menghasilkan serial bibit TC yang berdampak pada cuaca ekstrem di wilayah sekitar TC.

Comment