Penyalainews - Indonesia sudah memiliki nuklir sejak hampir 50 tahun lalu. Sayangnya, belum dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik.
Hal ini disampaikan Peneliti Senior Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto. Djarot mengatakan, terkait pemanfaatan nuklir uji kelayakannya ((feasibility study/FS)) sudah dilakukan di beberapa daerah, seperti Jepara, Bangka dan Kalimantan Barat (Kalbar).
"Saya kira nuklir itu sejarahnya di Indonesia sudah hampir 50 tahun," ungkapnya, seperti dilansir dari CNBC Indonesia, Selasa (23/3).
Dia menyebutkan, saat ini terdapat 440 reaktor di dunia, yang beroperasi di 32 negara dan porsinya mencapai 10,1% energi di dunia. Sementara di Indonesia, kata dia, ada beberapa lokasi yang bisa dimanfaatkan untuk membangun PLTN, terutama di daerah yang tidak rawan gempa.
"Sering mengatakan ini daerah-daerah gempa, cari daerah-daerah di Kalimantan, di Bangka, dan lain-lain, itu siap. Kita siap dari berbagai faktor," jelasnya.
Diakuinya, PLTN mempunyai sisi positif dan negatif yang tidak bisa diabaikan. Yakni, PLTN memiliki emisi karbon yang rendah dan bisa dijadikan penopang beban dasar (base load) pembangkit listrik.
Tidak seperti pembangkit energi baru terbarukan (EBT) lainnya yang jumlah energinya akan bergantung pada cuaca dan kondisi tertentu, misalnya energi surya (matahari), serta terbatas periode waktu, PLTN menurutnya tidak bergantung pada cuaca dan bahkan usianya bisa mencapai 60 tahun.
Tapi di sisi negatifnya, psikologis masyarakat yang membayangkan nuklir sebagai senjata serta kekhawatiran masyarakat jika terjadi kebocoran.
Kalau pun pemerintah telah mempertimbangkan hal-hal tersebut dan memutuskan setuju untuk membangun PLTN, maka bukan berarti serta merta PLTN dapat segera terbangun. Menurutnya, dibutuhkan waktu setidaknya sekitar 10 tahun sejak pemerintah menyetujui pembangunan PLTN hingga beroperasi.
"Jika go nuklir dijalankan 2021, maka kemungkinan terbangun paling cepat pada 2031," ungkapnya.
"Titik lemahnya, faktor utamanya yaitu kekhawatiran masyarakat. Tapi jajak pendapat tahun 2016 dengan 4.000 responden 77% dukung PLTN," imbuhnya.
Pemanfaatan PLTN di setiap negara memiliki spesifikasi yang berbeda, misalnya saja di Tiongkok yang berbeda dengan Amerika maupun Eropa karena tergantung dari seismologinya. Dia menyebut, Jepang telah membuktikan teknologinya tahan gempa.
"Apakah sumber daya manusia kita mampu? Kita bisa desain, juga desain reaktor eksperimental. Jadi, pengalaman menunjukkan bahwa orang Indonesia mampu dan berpengalaman dalam perakitan reaktor," jelasnya.

Comment