Penyalainews, Pekanbaru - Kebakaran lahan terjadi di Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis. Diduga, kebakaran di lahan seluas hampir 115 hektare (Ha) kawasan bergambut dikarenakan ulah manusia.
Pasalnya, petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menemukan kebun sawit yang sebagian sudah terbakar dengan semak dan hutan alam. Beruntung, lahan yang terbakar tersebut sudah padam.
Kepala Bidan II BBKSDA Riau, Heru Sutmantoro mengatakan anggotanya menemukan dua pondok di lokasi. Lantas, petugas menyegel pondok tersebut dan ditempelkan tulisan tanda berada di kawasan suaka margasatwa.
"Pemilik pondok harus merobohkannya dan di larang beraktivitas di sana, kalau tidak kami yang robohkan," kata Heru, mengutip Merdeka.com, Jumat (2/4).
Tak hanya itu, petugas juga memberi tanda peringatan pada pohon sawit di lokasi. Tanda itu dipasang sebagai pernyataan berada di kawasan Giam Siak Kecil.
"Luas kebun sawit yang ditemukan sekitar 3 sampai 4 hektare," terang Heru.
Lokasi dua pondok dan kebun sawit itu, sebut Heru, berdekatan dengan kawasan yang terbakar. Karenanya, petugas menyimpulkan bahwa kebakaran lahan itu terjadi sebagai upaya pembersihan.
"Pembersihan sebagai persiapan membangun kebun di kawasan hutan," tegas Heru.
Sementara, Heru sudah berkoordinasi dengan penegak hukum di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Dia ingin penegak hukum mengusut siapa yang membuat kebun di suaka margasatwa.
"BBKSDA itu wewenangnya hanya persuasif, kalau penegak hukum refresif, kami masih menunggu tindak lanjut," jelas Heru.
Heru menegaskan, tidak boleh ada sawit di suaka margasatwa. Jika masyarakat sudah berada di sana sebelum penetapan kawasan, kata Heru, hanya boleh ditanam dengan pohon bernilai ekonomi.
"Itu sudah ada aturannya, namanya kemitraan konservasi tapi bukan sawit," tegas Heru.
Setelah peristiwa kebakaran tersebut, BBKSDA Riau meningkatkan patroli. Petugas juga memasang rambu-rambu di beberapa lokasi sebagai tanda kawasan itu merupakan hutan konservasi.
"Agar masyarakat tahu dan tidak berkebun lagi di sana," terang Heru.

Comment