Belum Padam, Sudah 11 Hari Karhutla di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil

Penyalainews, Pekanbaru - Sudah 11 hari kebakaran hutan dan lahan di kawasan Cagar Biorfer Giam Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis belum juga padam.

"Lokasi kebakaran di Giam Siak Kecil (GSK) dan merupakan Suaka Margasatwa. Lokasi tepat di Desa Bagan Boneo," terang Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono, dikutip dari detikcom, Rabu (3/3).

Haryono menjelaskan petugas di lapangan kesulitan melakukan pemadaman lantaran lokasi karhutla yang berada jauh dari sumber air.

"Akses jalan cukup jauh, sehingga menjadi kendala tersendiri. Termasuk memobilisasi perlengkapan selama proses penanganan dan ketersediaan air, air dari titik kebakaran cukup jauh, ini sudah hari ke 11 kita berada di sana," kata Haryono.

Selain itu, kondisi lahan gambut yang tebalnya mencapai 2 meter juga menjadi kendala saat pemadaman. Ditambah lagi, sudah lebih dari 2 pekan lahan gambut di lokasi kebakaran tidak diguyur hutan dan air sudah surut.

"Tanah di sana gambut, kalau hujan itu bisa terendam dan kemarau 1-2 minggu sangat-sangat kering. Pemantik kecil saja, itu bisa menjadi pemantik yang susah dikendalikan tim di lapangan," katanya.

"Kami yakni alam tidak mengeluarkan api dengan sendirinya, sudah jelas perbuatan manusia. Tinggal ini manusia siapa yang memantik timbulnya api, ini sedang kami tindaklanjuti karena terjadi beberapa spot berkaitan. Jadi antara spot 1, 2 dan 3 itu berkaitan yang kemudian jadi sangat luas," katanya.

Hingga kini, proses pemadaman masih terus berlangsung. Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) dibantu masyarakat peduli api dan pihak perusahaan swasta, termasuk TNI dan Polri masih berjibaku di lokasi.

"Khusus di GSK kami bekerja bersama masyarakat peduli api yang kita bina dan rekan-rekan balai atau resort. Ada juga dukungan TNI Polri, tapi di luar kawasan karena terjadi kebakaran yang cukup sporadis juga," katanya.

Giam Siak Kecik merupakan cagar biosfer yang lokasinya berdampingan dengan Bukit Batu. Keduanya adalah lahan gambut raksasa yang berada di Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak.

Kedua hamparan itu memiliki luas mencapai 705.271 hektare. Cagar biosfer ini dideklarasikan UNESCO dalam Man and the Biosphere (MAB) Programme guna mendukung industri kayu berkelanjutan.

 

Comment