Waspada, Titik-titik Api Mulai Jadi Ancaman di Wilayah Sumatera

Penyalainews, Pekanbaru - Wilayah Sumatera belum sepenuhnya bebas dari kepungan titik-titik api yang ternyata masih menyala sehingga harus diwaspadai.

Di Provinsi Riau, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setidaknya mendeteksi 50 titik panas (hotspot) indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tersebar di 6 daerah di tanah Melayu tersebut.

Staf Analisa BMKG Pekanbaru, Anggun Rahmania menyebutkan pada 06.00 WIB kemarin, Selasa (23/2) saja sudah tercatat pada citra satelit adanya titik panas dengan tingkat kepercayaan di atas 70 persen. Kabupaten Bengkalis, menjadi daerah penyebaran titik panas.

"Titik panas di Riau terdeteksi di 6 daerah. Keenam daerah adalah Bengkalis, Dumai, Kepulauan Meranti, Rokan Hilir, Siak, dan Pelalawan," ujar Anggun, melansir detikcom, Rabu (24/2).

Menurut catatan BMKG, sebanyak 17 titik panas berada di wilayah Bengkalis, 1 titik di Kepulauan Meranti dan 13 titik di Kota Dumai. Kemudian, titik panas juga ditemukan di Pelalawan, Siak 6 titik, dan Rokan Hilir 12 titik panas.

Sedangkan di Kota Pekanbaru, per kemarin sudah mulai diselimuti kabut asap tipit. Menurut BMKG, asap itu diduga berasal dari daerah sekitar Pekanbaru yang sudah mulai terjadi karhutla.

Baca: Puluhan Bom Air dari Helikopter Dikerahkan Padamkan Karhutla 4 Ha di Siak

"Kalau untuk di wilayah Kota Pekanbaru sendiri belum terdeteksi adanya titik panas atau hotspot. Kemungkinan kiriman asap dari beberapa wilayah sekitar yang terbawa oleh angin ke wilayah Pekanbaru," katanya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau sendiri telah menaikkan status siaga darurat karhutla. Status mulai berlaku pada 15 Februari-31 Oktober mendatang.

Sementara itu, Kepada Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edwar Sanger mengungkapkan bahwa karhutla sudah melanda 8 daerah di Riau dengan luas lahan yang terbakar bervariasi, mulai dari 4 sampai 82 hektare.

"Luas lahan terbakar sejak Januari sampai hari ini kurang-lebih 248,95 ha. Ini terjadi di 8 daerah," terang Edwar.

Namun karhutla terluas terjadi di Bengkalis, yang mencapai 82 hektare. Disusul Siak 45 herktare, Dumai dan Inhil masing-masing 40 hektare.

Karhutla juga terjadi di empat daerah lainnya, yakni di Pelalawan 26 hektare, Kepulauan Meranti 4 hektare, Indragiri Hulu 5 hektare, dan Rokan Hilir 5 hektare.

Terkait antisipasi, Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution mengatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau sudah mengatisipasi karhutla sejak dini. Salah satunya dengan menetapkan status siaga darurat karhutla lebih awal.

Diharapkan Edi, upaya Pemprov Riau dalam mengantisipasi karhutla tersebut bisa disinergikan dengan pelaksanaanya di lapangan. Sehingga, pencengahan bisa dilakukan di awal agar karhutla tidak meluas.

"Kita sudah lakukan antisipasi, dengan cepat kita menetapkan status siaga darurat karhutla. Ternyata ini mendapatkan apresiasi dari bapak presiden," kata Edy di kantornya.

"Kalau sudah meluas, itu biaya mahal, bisa sampai triliunan. Butuh waktu yang lama dan personil yang banyak untuk mengatasinya. Jadi pencegahan harus dilakukan sejak awal," katanya.

Lihat Juga: Laksanakan Arahan Presiden Cegah Karhutla, Kapolda Riau: Langsung Tancap Gas

Tak hanya Riau, di sekitar Sumatera Barat (Sumbar) sejak bulan terakhir juga sudah terpantau hotspot.

Kepala BMKG, Unit Observasi Global Atmosopheric Watch (GAW) Kototabang, Wan Dayantolis mengatakan adanya titik api salah satunya dikarenakan curah rendahnya curah hujan di wilayah Sumbar.

"Ini akibat rendahnya curah hujan yang terjadi di wilayah Sumbar, Riau atau Sumatera Selatan," ujarnya.

Menurut wan, pola angin turut mempengaruhi kualitas udara. Dijelaskannya, pada Februari ini pola angin cenderung bertiup dari utara hingga timur laut.

"Sehingga jika terjadi kebakaran hutan di Riau, maka dampaknya akan masuk wilayah Sumbar," paparnya.

BPBD setempat mencatat, total lahan yang terbakar sudah mencapai lebih dari 25 hektare. BPBD menilai kobaran api sulit dijinakkan karena kondisi cuaca ekstrem dan panas terik.

"Lahan yang terbakar juga berpindah-pindah," kata Kepala Badan Pelaksana BPBD Agam, Muhammad Lufti.

Lufti menuturkan lahan gambut yang terbakar itu berada di Jorong Aia Maruok, Nagari Persiapan Durian Kapeh Darusalam, Kecamatan Tanjung Mutiara. Kebakaran sudah terjadi sejak 10 hari lalu.

"Proses pemadaman sudah dilakukan sejak 13 Februari silam dan masih belum bisa ditangani, karena lokasinya yang berpindah-pindah. Catatan kita, ada empat lokasi yang terbakar," kata dia.

BPBD dibantu masyarakat setempat masih berupaya memadamkan kobaran api yang terus menyala. Namun, lokasi yang sulit dijangkau dengan kendaraan roda empat menjadi kendala tersendiri.

Adapun kondisi cuaca yang sangat panas menyebabkan ketersediaan air terbatas. Angin kencang dan cuaca panas membuat api bisa menyala setiap saat.

Sumber: detikcom

 

Comment