Tersebab Penyalai Menunggoemoe Di Tanah Luka 

"Gemercik Air Redang Menemani Malam...

Ketika Emak membelaiku , agar tidur indah bermimpi negeri nan damai...

Kelopak matahari menyapa petani padi...yang tersenyum pulas ketika petang menyambut patahan senja..

Kini....oooh kini....

kemana perahuku hendak berlabuh...tatkala harum gulai sembilang berganti deru deru mesin..

Yang menabrak pelabuhan kecilku sampai patah

Terbelah..

Sirip puyu tak lagi merecup dalam air merah tanah redang...

Mereka berlari dan terus berlari....tapi raung mesin mesin itu seperti tanpa ampun..

Mengubur 3 lubang guli tempat kami bermain riang tanpa alas kaki...

Membongkas harapan harapan kami pada tanah yang mengikat memori.... pada kenuduk, pada rimba, pada anak pelanduk, burung camar, dan kepak kepak elang

Inilah Penyalai...

Tanah duka yang terbelah patah ditengah garang industrialisasi...

Inilah Penyalai
Pulau Berpisah dari Sumatera...
Yang menyambung Kuala dan Memeluk Delta....

Ditanah rindu hamparan pematang...

Yang redup tak lagi berkelip laksana malam tanpa bintang...

Kemarilah Sang Jebat dan Hulubalang..

Tersebab Penyalai Menunggoemoe mu disini..

Ditanah Duka...

Panam Tanpa Sukma, 28 Juli 2022

Elviriadi, putra Selat Panjang dan penulis produktif sastra puisi. Juga ahli Lingkungan Hidup & Kehutanan.

Comment