Penyalainews, Pekanbaru - Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa Indonesia termasuk dalam negara paling rawan terjadi bencana di dunia. Dikatakan Presiden pencegahan dan mitigasi bencana menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko tersebut dengan memperhatikan aspek lain dalam manajemen kebencanaan.
"Kita harus mempersiapkan diri dengan antisipasi yang betul-betul terencana dengan baik, detail. Jangan sampai kita hanya bersifat reaktif saat bencana terjadi," tegas Presiden, melalui siaran pers yang diterima Penyalainews, Kamis (4/3).
Jokowi menyampaikan tiga hal penting untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam di tanah air. Pertama, kata dia, tidak sekedar membuat aturan namun tetap memperhatikan pelaksanaan di lapangan terutama aspek pengendalian dan penegakan standar-standar.
"Misalnya, yang berkaitan dengan gempa, standar bangunan tahan gempa, fasilitas umum dan fasilitas sosial. Juga, agar segera lakukan koreksi dan penguatan apabila ditemukan ketidaksesuaian di lapangan dengan standar-standar yang ada," sebutnya.
Keduanya, kebijakan untuk mengurangi risiko bencana harus terintegrasi dari hulu hingga ke hilir dan tidak boleh ada ego sektoral ataupun ego daerah. Ketiga, pentingnya manajemen tanggap darurat serta kemampuan melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi dengan cepat.
"Untuk itu, jajaran terkait harus terus memperbaiki hal tersebut," imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan, BNPB mencatat dalam rentang waktu satu tahun sejak Februari 2020, sedikitnya ada 3.253 kejadian bencana di Indonesia.
Setiap hari, lanjut Doni, setidaknya ada sembilan kali kejadian bencana meliputi gempa, tsunami, erupsi gunung berapi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin puting beliung.

Comment