Penyalainews - Perairan Selatan Jawa berpotensi mengalami gempa dan tsunami. Pasalnya, terdapat aktivitas kegempaan di perairan selatan Jawa Timur dengan intensitas terus meningkat.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikora Karnawati menjelaskan, gempa-gempa di selatan Jawa Timur jumlahnya kian meningkat bahkan melebihi rata-rata pada tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, dikhawatirkan berpotensi gempa besar dan tsunami.
"Potensi gempa tertinggi bisa mencapai 8,7 skala richter dan risiko paling parah bisa menimbulkan tsunami dan gelombang tinggi mencapai 18 meter," ujarnya, mengutip detikcom, Jumat (5/3).
Melihat kondisi ini, pihaknya bersama petugas BMKG Stasiun Meteorologi Klas III Banyuwangi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan warga memeriksa langsung alat dan jalur evakuasi di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Kunjungan tersebut untuk memastikan peralatan Early Warning System (ERS) yang dipasang di beberapa titik termasuk di Pancer, bisa berfungsi dengan baik.
Banyuwangi, kata Dwikora, merupakan salah satu daerah rawan tsunami. Sehingga, dibutuhkan perangkat yang bisa memberikan peringatan dini jika ada bencana agar masyarakat dapat segera mengungsi.
Menurutnya, tempat ini dipilih lantaran memiliki histori kelam saat terjadi bencana tsunami pada 1994. Puluhan warga menjadi korban, serta puluhan rumah rusak berat.
"Ini merupakan bagian dari penerapan Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2019 mengenai pengembangan dan penguatan sistem informasi dan peringatan dini tsunami, itu pesan Presiden dalam memberikan peringatan dini harus cepat dan tepat," jelasnya.
Hal ini, kata dia, juga tertuang dalam Undang-Undang Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Di dalamnya sudah ada undang-undang peringatan dini.
"Ini harus disampaikan secara cepat, tepat dan akurat dan itu juga disampaikan oleh Presiden di dalam Perpres, juga tujuan kami ke sini merealisasikan aturan-aturan itu," katanya.
Sampai saat ini, pihaknya masih berupaya melakukan pengembangan terkait alat dan teknologi. Namun, upaya tersebut harus didukung dengan penguatan, pemahaman, serta kondisi sumber daya manusia di lapangan.
"Setelah teknologi sudah kita kembangkan sedang berproses, tetapi harus dicek di lapangan kalau misalnya sistem peringatan dini itu berbunyi sirinenya masyarakat yang mendengarkan sirine itu sudah bisakah meninggalkan tempat berlari menuju ke tempat yang aman. Tempat yang aman itu kita tek dari lokasi pantai di rumah-rumah penduduk, setelah kita ternyata tempat yang jauh sekali," ucapnya.
Sehingga hal ini menjadi catatan BMKG untuk laporan ke Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur, maupun bupati/wali kota sebagai bahan mitigasi bencana gempa atau tsunami.
Sebagai informasi, pada 3 Juni 1994, di Pantai Pancer dan Pantai Rajegwesi Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi pernah terjadi tsunami. Akibat bencana tersebut, korban meninggal diperkiraan mencapai 215 jiwa. Sehingga sampai saat ini, masyarakat setempat masih trauma terhadap bencana tersebut.

Comment